SELAMAT DATANG DI SAMPOERNA ACADEMY SMAN 10 MALANG

Jl. Danau Grati No. 1 Malang Telp./Fax 0341-719300,717300, JAWA TIMUR - INDONESIA

Komitmen Bersama untuk meningkatkan "Perpustakaan Sebagai Pusat Ilmu dan Kreativitas" DIGITAL LIBRARY

Kamis, 28 Mei 2009

Gita Gutawa Sebagai Duta Pendidikan Sampoerna Foundation


Jakarta, 25 Mei 2009 - Penyanyi remaja, berbakat dan cantik, Gita Gutawa (16 tahun) didaulat sebagai Duta Pendidikan Sampoerna Foundation. Penerima penghargaan sebagai Pendatang Baru Terbaik dan Album Terbaik di ajang AMI Award 2008 dan baru saja meluncurkan album keduanya berjudul Harmoni Cinta menunjukkan kepedulian dan komitmen yang kuat untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Acara penobatan secara simbolik dan juga penyerahan giant cheque sebesar 50 juta rupiah dari pihak Sony Music Entertainment Indonesia dan Gita Gutawa kepada SF dihadiri oleh Toto Widjojo Managing Director Sony Music, Erwin dan Lulu Gutawa, orang tua Gita Gutawa, Vira Soekardiman Sales Director Sampoerna Foundation, Sapto H.Sakti Communication Director Sampoerna Foundation di Blitz Megaplex, Grand Indonesia hari ini (25/05).
Gita Gutawa sebagai Duta Pendidikan akan terlibat langsung dalam program-program pendidikan Sampoerna Foundation. Sebagai komitmen awal Gita Gutawa melalui Sony Music memberikan donasi sebesar 50 juta rupiah kepada SF untuk beasiswa. Selain itu, album kedua Gita, Harmoni Cinta didedikasikan untuk mendukung salah satu program penggalangan dana pendidikan Sampoerna Foundation, “Save A Teen”. Program ini bertujuan untuk memberikan akses pendidikan bagi siswa siswi yang berprestasi namun memiliki keterbatasan ekonomi. Hasil penjualan CD dan Kaset dan Ring Back Tone dari lagu-lagu di album Harmoni Cinta ini akan didonasikan untuk program Save A Teen.
“Sebagai pelajar, Gita yakin bahwa pendidikan itu adalah penting bagi kemajuan bangsa. Semoga lagu di album kedua ini seperti Meraih Mimpi, Melangkah Lagi dan Ayo, Come On dapat menginsipirasi teman-teman Gita yang kurang beruntung untuk selalu semangat sekolah dan mengajak semua remaja di Indonesia untuk membantu teman-teman yang kekurangan biaya sekolah!” jelas Gita. Menurut data Biro Pusat Statistik tahun 2006 ada lebih 13 juta anak usia sekolah (7-18) tidak sekolah . Dan hanya 3.39% dari seluruh penduduk di Indonesia yang dapat menyelesaikan pendidikan tinggi (Sumber UNDP Human Development Report 2007-2008; UNESCO World Education Indicators 2006; BPS 2006) “Sony Music bangga mempersembahkan album yang mendukung pendidikan di Indonesia. Saya berharap seluruh pecinta musik dan masyarakat Indonesia menghargai karya album ini dengan tidak membeli barang bajakannya, agar cita-cita dari Gita Gutawa untuk membantu remaja di Indonesia yang putus sekolah terwujud” - Toto Widjojo – Managing Director Sony Music. “Semoga sinergi antara Gita Gutawa, Sony Music dan Sampoerna Foundation dapat memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak Indonesia mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas. Marilah kita terus bekerja sama dan berkomitmen bagi kemajuan kualitas pendidikan di Indonesia.” ujar Vira Soekardiman, Sales Director Sampoerna Foundation.

(Sumber : SF)

Rabu, 27 Mei 2009

UI, UGM, ITB Masuk 400 Universitas Besar Dunia

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Tiga di antara 17 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) telah masuk dalam daftar 400 universitas besar dunia, sedangkan yang lainnya masuk dalam 500 besar dunia. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional akan mendukung 17 PTN itu demi meraih kualitas internasional. Hal tersebut dikatakan oleh Dirjen Dikti Fasli Djalal, di Yogyakarta, Rabu (20/5). Tiga perguruan tinggi yang termasuk 400 besar dunia itu antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), serta Universitas Indonesia (UI). Sementara itu, universitas yang masuk dalam 500 besar dunia antara lain Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro. Lain halnya dengan Universitas Brawijaya (Unibraw), universitas ini bercokol di peringkat 502 dunia. Kami mendorong sepuluh universitas lain seperti Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Hasanuddin, serta Universitas Sumatera Utara agar bisa berkelas internasional, sehingga pada 2009 akan ada 17 perguruan tinggi yang sudah berkelas internasional, kata Fasli. Untuk tujuan internasionalisasi tersebut, Dikti akan menyokong dari segi dana hingga miliaran rupiah. Kami mendukung dari segi dana yang jumlahnya cukup banyak, mencapai miliaran rupiah, kata Dirjen Dikti Fasli Djalal di Yogyakarta.

Kampung English di Desa Temulus

KUDUS,-Warga, terutama kalangan remaja usia SMP, di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, fasih berbahasa Inggris. Meski baru belajar sekitar tiga bulan di English for Beginner (EFB), tetapi mereka sudah mampu berbahasa dan berpidato dengan bahasa Inggris. Sungguh sangat senang. Apalagi jika mengingat kami adalah bagian dari warga desa yang dalam banyak hal jauh tertinggal dengan warga kota, tutur Handayani dan Asmiyar, siswa kelas II SMP Negeri Mejobo, pada acara pembukaan Kampung English (KE), di Balai Desa Temulus, Sabtu (4/4). Menurut pimpinan EFB, Muslimin, metode belajar dan mengajar mengadopsi dari Pare, Kediri (Jawa Timur). Kami tidak menyediakan alat bantu teknologi, misalnya komputer, apalagi laboratorium bahasa. Hanya perpustakaan kecil-kecilan, ruang belajar yang masih bersifat darurat, empat tenaga pengajar, dan tanpa dipungut bayaran. Ke depan kami ingin membangun Kudus bagian timur sebagai english village dan basis intelektual di tingkat desa, katanya. Muslimin menyatakan, selama enam tahun belajar bahasa Inggris secara formal di bangku SMP dan SMA sama sekali tidak menguasai bahasa ini. Begitu pula ketika menjadi mahasiswa. Saya akhirnya memutuskan 'sekolah' di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kediri selama 9 bulan. Tiga bulan pertama sudah mampu berbahasa dan akhirnya saya 'lulus' dengan sangat memuaskan, katanya sembari tertawa. Dia tertawa karena mengingat proses belajar dan mengajar di Desa Tulungrejo tidak seperti sekolah formal, dengan metode belajar dan sarana-prasarana penunjangnya yang serbamahal. Lebih banyak belajar di alam terbuka, berbaur dengan warga, belajar tentang budaya, lingkungan, dan sebagainya. Sebagian besar penduduk di sana memang sudah begitu akrab dengan bahasa Inggris dan banyak lulusan S1, S2, serta calon tenaga kerja Indonesia maupun tenaga kerja wanita yang belajar bahasa Inggris di desa ini, katanya.
(Sumber : Kompas)

Senin, 25 Mei 2009

Sekolah Hari Ini...

Setiap tahun ajaran baru dimulai, di setiap simpang dan tiap sudut kota telah terpampang "iklan" yang menawarkan tentang keunggulan sekolah-sekolah, selain sekolah negeri yang rutin melakukan penerimaan siswa baru dengan seleksi tersendiri, ada juga sekolah-sekolah lainnya yang tidak kalah unggulnya dengan sekolah negeri. Namun ketika sekolah telah berjalan, kekecewaanpun mulai muncul dalam hati orang tua murid, ini tidak lain karena melihat nilai rapor anak mereka yang tidak sesuai dengan harapan. Padahal besar harapan mereka (baca: orang tua) untuk menjadikan anak mereka cerdas jika bersekolah di sekolah yang unggul dan elit. Kemudian keraguan dan ketakutanpun mulai muncul dalam hati mereka setelah kekecewaan. Keraguan disebabkan, para orang tua mulai meragukan keunggulan sekolah karena tidak bisa menjadikan anak mereka cerdas secara akademis. Dan ketakutan disebabkan, para orang tua mulai takut, jangan-jangan anak mereka memang bodoh karena mendapat nilai rapor yang jelek. Nilai rapor. Itulah yang menjadi tolak ukur para orang tua dalam menentukan apakah anak mereka cerdas atau tidak. Menurut mereka (baca: orang tua) anak yang cerdas adalah anak yang memiliki nilai rapor yang tinggi, sedangkan anak dengan nilai rapor yang rendah adalah anak yang bodoh. Tapi, bagaimanakah sebenarnya anak yang cerdas itu? Benarkah nilai rapor sebagai penentu kecerdasan seseorang? Sebelum pembahasan lebih lanjut, ada baiknya kita simak cerita berikut. "Terbetiklah sebuah kabar yang menggegerkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang. Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Mereka, para bintang besar itu memutuskan untuk menciptakan sebuah sekolah memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali. Anehnya mereka tidak menemukan kata sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti kurikulum yang sama. Jadi setiap murid harus ikut mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali. Kita tentu tahu karakter rusa yang ahli berlari, nah suatu saat sang rusa hampir tenggelam saat mengikuti kelas (mata pelajaran) berenang. Dan pengalaman mengikuti kelas berenang sangat membuat batinnya terguncang, dia merasa seperti tidak punya potensi lagi. Lama-kelamaan, karena sibuk mengurusi pelajaran berenang, dan harus mengikuti pelajaran tambahan berenang, si rusa pun tidak lagi dapat berlalri secepat sebelumnya. Karena dia sudah mulai jarang melatih keahlian alaminya. Kemudian ada kejadian lain yang cukup memusingkan pengelola sekolah binatang tersebut. Kita juga tentu tahu karakter burung elang. Yang sangat pandai terbang. Namun, ketika mengikuti kelas menggali, si elang tidak mampu menjalanai tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Dan akhirnya, ia juga harus mengikuti les tambahan menggali. Les itu banyak menyita waktunya, sehingga ia melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya. Demikianlah kesulitan demi kesulitan melanda juga binatang-binatang lain, seperti bebek, burung pipit, ular dll. Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahliannnya mereka masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat-sifat asli mereka. " (Hernowo dan Nurdin, 2004) Begitulah sekolah kita hari ini, persis seperti sekolah dunia binatang. Anak-anak dipaksa untuk mengikuti semua mata pelajaran yang bahkan tidak disukai mereka dan malah melupakan kemampuan alamiah mereka di bidang lain. Seperti misalnya, anak yang cerdas dalam berbahasa inggris, tapi tidak cerdas dalam matematika akan mengurangi kemampuan bahasa inggrisnya, karena harus mengikuti les tambahan matematika setiap hari, sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengasah kemampuannya dalam berbahasa inggris. Alhasil, anak tersebut tetap tidak cerdas dalam matematika, juga tidak terampil dalam berbahasa inggris. Apakah kita mau, anak-anak kita tidak mempunyai keterampilan sama sekali? Atau apakah kita mau, demi bidang yang satu, anak kita menjadi hilang potensinya di bidang yang lain? Tentu jawabnnya tidak. Dan saya harap semua orang tua sepakat menjawab tidak. Lalu apa yang bisa kita lakukan terhadap ini semua? Sebelumnya ada sebuah pengalaman menarik dari Skinner (1904-1990) - seorang psikolog terkenal dari Austria - yang dapat memberikan gambaran keadaan sekolah kita hari ini. "Pada suatu hari dalam kapasitasnya sebagai orang tua murid pernah melihat-lihat bagaimana keadaan kelas anak perempuannya yang duduk di kelas 4 setingkat SD pada saat pelajaran berlangsung. Ia melihat dalam kelas itu terdapat 20 "organisme hidup (murid) berharga" tapi menjadi korban pengajaran yang menurutnya situasi dalam kelas itu bukanlah suatu proses belajar. Ia sangat keberatan dengan teknik didaktik yang digunakan dalam kelas itu, dimana tidak memberikan efek penguatan yang kuat bagi siswa. Pelajaran yang diajarkan dalam kelas itu hanya sesuatu yang memang harus dipelajari oleh siswa tanpa peduli apakah siswa tersebut suka atau tidak, sehingga proses belajar mengajar tidak berjalan atas dasar minat asli siswa. Kemudian ia berkesimpulan bahwa sekolah sering dijalankan dengan memberikan pujian dan hukuman pada siswa yang hanya akan menghasilkan motivasi artifisial. Kemudian menurut Dave Meier - seorang pakar accelerated learning - memperkuat kesimpulan Skinner tentang sekolah kita saat ini. Sekolah saat ini kadang-kadang mencekik dan melumpuhkan orang dan merenggut kegembiraan belajar anak didik, sehingga dapat menghalangi mereka mengasah pikiran dan mewujudkan potensi sepenuhnya. Tentu kita tidak mau anak-anak kita menjadi tumpul potensinya, dan juga tidak mau jika melihat potensi anak-anak kita mati sia-sia karena harus mempelajari yang bukan minatnya. Sekolah hari ini tidak mampu mengakomodir kebutuhan siswa. Bahkan bisa-bisa membunuh potensi siswa yang beragam dengan kurikulum yang sama rata. Padahal kita tahu bahwa setiap anak mempunyai bakat dan minat alamiah yang berbeda-beda. Kelemahan lain pendidikan kita saat ini adalah bahwa penilaian/evaluasi dilakukan dengan angka-angka yang tertera di raport. Akan mudah terlihat mana anak cerdas dan anak yang tidak cerdas. Padahal, anak yang pintar berdasarkan nilai raport bisa jadi memang benar-benar cerdas. Tapi harus diingat mungkin ia cerdas dalam bidang akademik. Anak lain yang nilai rapornya rendah jangan langsung dianggap bodoh. Bisa jadi ia kurang berminat di bidang akademis, mungkin berminat di bidang lainnya seperti seni dan sastra ataupun olah raga. Nah disinilah peranan sekolah sangat dibutuhkan, yaitu melihat potensi siswa dan mengembangkannya menjadi potensi yang teraktualisaikan. Sekolah harus menjadi akselerator untuk menyuburtumbuhkan beragam potensi siswa, sehingga dengan demikian siswa mampu mengarungi kehidupan ini dengan bekal ketrampilan hidup yang dimilikinya ditambah dengan arahan dari sekolah. Nah dari sekolah model ini akan lahir manusia-manusia unggul yang semuanya mampu memancarkan potensinya dengan cemerlang. Karena sekali lagi, bukanlah siswa yang bodoh, tapi yang ada hanyalah siswa yang lebih unggul di bidang yang berbeda. Menurut Howard Gardner - seorang pakar pendidikan penemu multiple intelegence (kecerdasan majemuk) dari Harvard University - anak harus didorong untuk mengaktualisaksikan kecerdasannya. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda, Kecerdasan tersebut adalah kecerdasan spasial-visual (cerdas dalam menggambar atau membayangkan), linguistik verbal (cerdas dalam berkata-kata atau berbahasa). Kecerdasan interpersonal (cerdas dalam berinteraksi dengan sesama), kecerdasan musikal-ritmik (cerdas dalam bernyanyi dan memainkan alat musik), kecerdasan naturalis (cerdas dalam berhubungan dengan alam dan isinya). Kecerdasan badan (kinestetis)- cerdas dalam berolah raga dan menari, kecerdasan intrapersonal (cerdas dalam memahami diri atau merenung), dan kecersdasan logis matematis (cerdas dalam berhitung). Maka tugas sekolahlah untuk membantu anak mengaktualisasikannya. Di akhir tulisan ini saya mengutip sebuah pernyataan seorang guru teladan dari Georgia yang meyampaikan idenya tentang anak didik pada saat penganugerahan guru teladan. Beliau mengatakan "bahwa hal yang paling mengasyikkan dalam mengajar adalah saat saya menatap wajah seorang anak dan menyaksikan kebingungannya berubah menjadi konsentrasi, lalu konsentrasinya berubah menjadi keterkejutan, dan akhirnya keterkejutannya berubah menjadi rasa bangga akan prestasinya". Sekali lagi bahwa sekolah harus mampu membangkitkan minat dan bakat alamiah siswanya sehingga akan muncul loncatan-loncatan prestasi yang luar biasa.
"Belajar bukan berarti tekanan atau ancaman!"
(Sumber : Tarmidi, S.Psi)

Pendidikan Sekarang Dan Masa Depan

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat.Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan". Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan. Mempertimbangkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah plat fotografik yang tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya. Empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) learning to Know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Dalam rangka merealisasikan 'learning to know', Guru seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu. Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang. Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru dan guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses "learning to live together" (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tersebut. Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini. Mengenai kecenderungan merosotnya pencapaian hasil pendidikan selama ini, langkah antisipatif yang perlu ditempuh adalah mengupayakan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap dunia pendidikan, peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, serta perbaikan manajemen di setiap jenjang, jalur, dan jenis pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah, khususnya di kabupaten/kota, seyogyanya dikaji lebih dulu kondisi obyektif dari unsur-unsur yang terkait pada mutu pendidikan, yaitu: (1) Bagaimana kondisi gurunya? (persebaran, kualifikasi, kompetensi penguasaan materi, kompetensi pembelajaran, kompetensi sosial-personal, tingkat kesejahteraan); (2) Bagaimana kurikulum disikapi dan diperlakukan oleh guru dan pejabat pendidikan daerah?; (3) Bagaimana bahan belajar yang dipakai oleh siswa dan guru? (proporsi buku dengan siswa, kualitas buku pelajaran); (4) Apa saja yang dirujuk sebagai sumber belajar oleh guru dan siswa?; (5) Bagaimana kondisi prasarana belajar yang ada?; (6) Adakah sarana pendukung belajar lainnya? (jaringan sekolah dan masyarakat, jaringan antarsekolah, jaringan sekolah dengan pusat-pusat informasi); (7) Bagaimana kondisi iklim belajar yang ada saat ini?. Mutu pendidikan dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian pembenahan terhadap segala persoalan yang dihadapi. Pembenahan itu dapat berupa pembenahan terhadap kurikulum pendidikan yang dapat memberikan kemampuan dan keterampilan dasar minimal, menerapkan konsep belajar tuntas dan membangkitkan sikap kreatif, demokratis dan mandiri. Perlu diidentifikasi unsur-unsur yang ada di daerah yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi proses peningkatan mutu pendidikan, selain pemerintah daerah, misalnya kelompok pakar, paguyuban mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat daerah, perguruan tinggi, organisasi massa, organisasi politik, pusat penerbitan, studio radio/TV daerah, media masa/cetak daerah, situs internet, dan sanggar belajar.
(Sumber : M. Sobry Sutikno)

Jumat, 22 Mei 2009

Malang Tempo Doeloe

Pembukaan Malang Tempo Doeloe (MTD) IV di Pendopo Agung Jl Ijen, Kamis (21/5) malam, berlangsung unik dan menarik. Berbeda dengan event-event budaya di daerah lain yang pembukaannya menggunakan gong, bedhug, atau alat musik lain, pembukaan MTD IV ditandai dengan pemukulan tambur dari kertas.
Menteri Pariwisata, Jero Wacik, yang dijadwalkan membuka MTD IV, ternyata batal hadir. Sebagai gantinya, Wali Kota Malang, Drs Peni Suparto MAP, bersama ribuan undangan membuka acara ini dengan menabuh tambur.
”Kami membagikan 1.200 tambur dari kertas ini kepada undangan. Kami menggunakan alat musik mainan anak-anak tempo dulu ini untuk menandai kebangkitan budaya Malang,” kata Dwi Cahyono, konsultan event Malang Tempo Doeloe ini kepada Surya, Kamis (21/5).
Pembukaan makin menarik dengan penampilan parade tarian anak-anak Denok Deblong dari sanggar-sangar tari se Malang Raya. Setelah itu disusul dengan fragmen yang menggambarkan perjuangan arek-arek Kota Malang mulai tahun 1938 sampai 1958, terutama peristiwa Malang Bumi Hangus. Fragmen yang dibawakan teater-teater dari berbagai perguruan tinggi di Kota Malang ini juga menampilkan pertempuran di Jl Salak (kini Jl Pahlawan Trip-Red).
Meski MTD IV baru dibuka malam hari, sejak siang event ini telah diserbu warga. Stan-stan aneka makanan, busana, maupun produk-produk kerajinan tempo dulu telah buka sejak pagi. Sejumlah pengunjung tampak menikmati makanan dan jajanan dengan nongkrong di stan-stan yang menggunakan ejaan lama ini. Tidak sedikit yang memborong untuk dibawa pulang.
Sayangnya, pembukaan MTD IV kemarin diwarnai hujan. Hujan yang tiba-tiba deras sekitar pukul 12.00 WIB sempat membuat pemilik stan kalang kabut. Bahkan beberapa stan di Jl Ijen sempat bajir hingga harus mengamankan dagangannya.
Hujan kembali mengguyur ketika acara akan dibuka sekitar pukul 20.30 WIB. Namun guyuran yang berupa gerimis rintik-rintik ini membuat pengujung bergeming. Pengunjung memadati hampir seluruh area MTD IV, termasuk area panggung di depan Perpustakaan Umum Kota Malang. Penonton bersorak-sorai melihat aksi fragment ini. Bisa jadi, inilah gairah wisata yang diharapkan.
(Sumber : surya.co.id)

Rabu, 20 Mei 2009

PUISI - PUISI

( Puisi-puisi A. Mustofa Bisri )
STASIUN

kereta rinduku datang menderu
gemuruhnya meningkahi gelisah dalam kalbu
membuatku semakin merasa terburu-buru
tak lama lagi bertemu, tak lama lagi bertemu

sudah kubersih-bersihkan diriku
sudah kupatut-patutkan penampilanku
tetap saja dada digalau rindu
sabarlah rindu, tak lama lagi bertemu

tapi sekejap terlena
stasiun persinggahan pun berlalu
meninggalkanku sendiri lagi
termangu


GELISAHKU

gelisahku adalah gelisah purba
adam yang harus pergi mengembara tanpa diberitahu
kapan akan kembali
bukan sorga benar yang kusesali karena harus kutinggalkan
namun ngungunku mengapa kau tinggalkan
aku sendiri
sesalku karena aku mengabaikan kasihmu yang agung
dan dalam kembaraku di mana kuperoleh lagi kasih
sepersejuta saja kasihmu
jauh darimu semakin mendekatkanku kepadamu
cukup sekali, kekasih
tak lagi,
tak lagi sejenak pun
aku berpaling
biarlah gelisahku jadi dzikirku
( Puisi-puisi WS Rendra )
KANGEN

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

KENANGAN DAN KESEPIAN

Rumah tua
dan pagar batu.
Langit di desa
sawah dan bambu.

Berkenalan dengan sepi
pada kejemuan disandarkan dirinya.
Jalanan berdebu tak berhati
lewat nasib menatapnya.

Cinta yang datang
burung tak tergenggam.
Batang baja waktu lengang
dari belakang menikam.

Rumah tua
dan pagar batu.
Kenangan lama
dan sepi yang syahdu

(Sumber : wordpress.com)